Cerpen: The Misterious Girl’s Smile Syndrome Effect

              

                 Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Malas, rame, bahkan ada yang tidur, hal itu sudah menjadi pemandangan wajar di kelas.
                “Hoaaahh…” Aku pun menguap.
                “Ngantuk bro?” Tanya Kikuk.
                “Banget nih…”
              Setelah 15 menit,aku memerangi hawa nafsu yang terus membujukku untuk menuju dunia mimpi, akhirnya bel pulang pun berbunyi juga (teet…teet…teet…teet…)
                “YES!”

Cerpen: Dia- yang- Tidak- Boleh- Disebutkan- Namanya



            “Boring banget nih, pelajarannya Bu Ucok. Ngantuuuk…” kataku pada Sholuik.
            “Tenang aja bro, bentar lagi juga bel pulang.” jawab Sholuik yang juga lagi malas.
“Nih… delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga...”
Belum sempat Sholuik menyelesaikan hitungannya, bel pulang pun sudah menyelonong begitu saja (teet... teet…teet…teeeet…). Mungkin bel pulang siang hari ini bagaikan oasis bagi anak- anak di tengah padang gurun yang sangat panas dan gersang. Namun bagiku, ini bagaikan lubang neraka di tengah taman seribu bunga yang sangat indah.