Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Malas, rame, bahkan ada yang tidur, hal itu sudah menjadi pemandangan wajar di kelas.
“Hoaaahh…” Aku pun menguap.
“Ngantuk bro?” Tanya Kikuk.
“Banget nih…”
Setelah 15 menit,aku memerangi hawa
nafsu yang terus membujukku untuk menuju dunia mimpi, akhirnya bel
pulang pun berbunyi juga (teet…teet…teet…teet…)
Aku pun berteriak dengan sangat
keras, hingga seisi ruang kelas menertawakanku. Aku menjadi sangat malu
dan sal-ting. Kulihat sekeliling, namun mata ini hanya tertuju pada
satu obyek sekitar arah jam 10.00, timur laut. Asseeekk…
Kulihat sekilas senyuman misterius
yang membuatku seakan- akan ditarik ke sebuah pulau tak berpenghuni yang
sangat indah,nyaman,dan damai, di mana hanya aku dan
Dia-yang-tidak-boleh-disebutkan-namanya itu saling memandang dan
berbalas senyum tanpa ada batasan waktunya. Aku tidak percaya dengan hal
itu. Aku coba mengucek- ucek mataku. Apakah dia asli atau hanya
halusinasiku saja?
Namun sayang, aku hanya dapat
menikmati senyuman itu sebentar saja. Ini semua dikarenakan tempatku dan
tempatnya berada, seperti dibatasi oleh tembok baja setinggi langit
ataupun seperti terdapat sungai tanpa ujung yang di tengah- tengahnya
terdapat banyak monster lapar yang sewaktu- waktu siap memangsa kita.
Sepanjang perjalan pulang, aku terus
memikirkan senyuman tadi. Sejenak aku menjadi teringat pada sosok
bidadari yang pernah pergi tanpa jejak dari kehidupanku.
Sebelum sampai di rumah, aku
menyempatkan diri untuk berhenti sebentar di sebuah toko buku.
Kupilih-pilih buku yang menurutku asyik untuk dibaca.
“Mbak ada yang paling mahal, gak?” Cuma nanya doang.
“Wah, mas! Mau yang harga berapa?” Jawab salah satu penjaganya.
“Yasudah mbak nanti aja!” (GUBRAK)
Setelah memilih- milih buku, aku segera menuju ke kasir untuk membayar.
“Mbak yang ini boleh ditawar gak?” sambil menunjukkan bukunya.
(OMAYGAT) Kulihat mbaknya kasir itu menertawakanku, yaa… walaupun agak ditutup- tutupi…
Sembari melihat mbaknya tertawa tadi,
tiba- tiba kurasakan The Misterious Girl’s Smile Syndrome Effect itu
muncul lagi. Kulihat si bidadari itu tersenyum kepadaku. Dia pun segera
berlari menuju luar toko buku. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung
pergi mengejarnya dan menghiraukan buku tadi. Dia berlari seolah- olah
dia inginkan aku untuk mengejarnya, seperti di film- film Bollywood
gitu. Tetapi dia berlari terlalu cepat, bagaikan atlet lari gaya dada.
Aku pun tak kuasa mengejarnya. Tidaaakk…
Aku masih mencoba untuk mengimbangi
kecepatannya, sampai- sampai jantung ini berdetak terlalu cepat hingga
100 km/jam. Dan tiba- tiba kepalaku pusing, mataku berkunang- kunang,
nafasku terseok- seok, dan tubuhku melemas. BRAK! Akupun pingsan di
jalanan. Ketika aku bangun yang kulihat hanyalah orang- orang yang
menggeromboliku. Dan aku pun menjadi kehilangan bidadari tadi lagi.
Bukan apa- apa yang aku takutkan.
Hanya saja aku takut, apabila dia pergi meninggalkanku lagi untuk yang
kedua kalinya, di saat aku masih mencoba menafsirkan apakah arti
senyuman itu sebenarnya.
